icon fd photo ICON FD.gif
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016


Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Sya’ban. Malam ini, yakni pertengahan bulan Sya’ban atau lebih dikenal dengan ‘Nisfu Sya’ban’ seluruh amal kita dalam setahun akan dibawa oleh Malaikat dan kemudian akan disimpan di ‘Louhil Mahfudz’ yang nantinya akan dibuka pada saat yaumil hisab. Dengan kata lain, nisfu sya’ban adalah saat dimana buku catatan amalan kita dalam setahun akan diganti dengan buku yang baru. Oleh karenanya, hendaknyalah kita semua memperbanyak ibadah pada hari tersebut.

Kelebihan Malam Nisfu Sya'ban

Adapun kelebihan Malam Nishfu Sya'baan itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu`az bin Jabal radhiallahu `anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam yang maksudnya :

"Allah memandang kepada semua makhlukNya di Malam Nishfu Sya'baan, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan."

(Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)

Di Malam Nishfu Sya'baan juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi`ie dalam kitabnya al-Umm:

"Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya `Aidil Fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nishfu Sya'baan."

Malam Nishfu Sya'baan merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu`az bin Jabal radhiallahu `anhu di atas.

 Rosululloh bersabda:

رجب شهر الله و شعبان شهري ورمضان شهر امتي
‘Rojab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Romadhon adalah bulan umatku’

 Keutamaan bulan Sya’ban
  1. Rof’ul ‘amali (bulan terangkatnya amal dalam satu tahun) Adapun terangkatnya amal harian adalah waktu Subuh dan Ashar, sedangkan terangkatnya amal tiap minggu adalah hari senin dan kamis.
  2. Taqdirul a’mari (penentuan penampakan umur)
  3. Syahru Sholati ‘ala Nabi (bulan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW) Perintah untuk membaca sholawat diturunkan pada bulan Sya’ban
  4. Malam nisfu sya’ban yang dimulyakan dengan beberapa nama

  •  ليلة المباركة         (malam yang barokah)
  •  ليلة القسمة           (malam pembagian rizqi dan penentuan umur)
  • ليلة  التكفير           (malam peleburan dosa selama satu tahun)
  •  ليلة ليلة اللاءجابة  (malam pengabulan do’a – do’a)

 Amaliyah Bulan Sya’ban

Berpuasa di Bulan Say’ban 
Nabi bersabda yang artinya  ‘Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah, maka saya senang ketika diangkatnya amal saya dalam keadaan saya berpuasa’
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Nabi Muhamad SAW

“Puasa yang paling utama selain pada bulan Romadhon adalah Sya’ban, karena untuk  mengagungkan Romadhon’

Memperbanyak amal ibadah
Terutama beristighfar, sholat hajat, sholat tasbih, memperbanyak do’a dan bersholawat

Perbanyak Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban

Salamah bin Kahil berkata,
كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء
“Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.”

Abu Bakr Al Balkhi berkata,
شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ
“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.”


Sabtu, 09 April 2016

Penulis : Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Banyak cara dilakukan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Mungkin anda termasuk satu dari sekian orang yang tengah berupaya mencari cara untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup. Sehingga anda sibuk membolak-balik majalah, tabloid, dan semisalnya, atau mendatangi orang yang berpengalaman untuk mencari kiat-kiat hidup bahagia. Mungkin kiatnya sudah anda dapatkan namun ketika dipraktekkan, kebahagiaan dan ketenangan itu tak kunjung datang. Sementara kebahagiaan dan ketenangan hidup merupakan salah satu kebutuhan penting, apalagi bila kehidupan selalu dibelit dan didera dengan permasalahan, kesedihan dan kegundah gulanaan, akan semakin terasalah butuhnya kebahagian, atau paling tidak ketenangan dan kelapangan hati ketika menghadapi segala masalah.

Sepertinya semua orang hampir sepakat bahwa bahagia tidak sepenuhnya diperoleh dengan harta dan kekayaan karena berapa banyak orang yang hidup bergelimang harta namun mereka tidak bahagia. Terkadang malah mereka belajar tentang kebahagiaan dari orang yang tidak berpunya.

Sebenarnya kebahagiaan hidup yang hakiki dan ketenangan hanya didapatkan dalam agama Islam yang mulia ini. Sehingga yang dapat hidup bahagia dalam arti yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini. Ada beberapa cara yang diajarkan agama ini untuk dapat mencapai hidup bahagia, di antaranya disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah dalam kitabnya Al-Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa‘idah:

1. Beriman dan beramal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَياَةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ ماَ كَانُوا يَعْمَلُوْنَ “Siapa yang beramal shalih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Ini adalah janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang beramal shalih yaitu amalan yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan dari keturunan Adam, sementara hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memberikan kehidupan yang baik baginya di dunia dan membalasnya di akhirat dengan pahala yang lebih baik daripada amalannya. Kehidupan yang baik mencakup seluruh kesenangan dari berbagai sisi. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sekelompok ulama bahwa mereka menafsirkan kehidupan yang baik (dalam ayat ini) dengan rezki yang halal lagi baik (halalan thayyiban), sementara Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menafsirkannya dengan sifat qana’ah (merasa cukup), demikian pula yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah dan Wahb bin Munabbih. Berkata ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas: “Sesunggguhnya kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.” Al-Hasan, Mujahid, dan Qatadah berkata: “Tidak ada bagi seorang pun kehidupan yang baik kecuali di surga.” Sedangkan Adh-Dhahhak mengatakan: “Ia adalah rizki yang halal dan ibadah di dunia serta beramal ketaatan dan lapang dada untuk taat.” Yang benar dalam hal ini adalah kehidupan yang baik mencakup seluruh perkara tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/421)

2. Banyak mengingat Allah (berdzikir) karena dengan dzikir kepada-Nya akan diperoleh kelapangan dan ketenangan, yang berarti akan hilang kegelisahan dan kegundah gulanaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبِ “Ketahuilah dengan mengingat (berdzikir) kepada Allah akan tenang hati itu.” (Ar-Ra’d: 28)

3. Bersandar kepada Allah dan tawakkal pada-Nya, yakin dan percaya kepada-Nya dan bersemangat untuk meraih keutamaan-Nya. Dengan cara seperti ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa serta gundah gulana. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3) 4. Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dengan ikhlas kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لاَ خَيْرَ فِي كَثِيْرٍ مِّنْ نَجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغآءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْماً

“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barangsiapa melakukan hal itu karena mengharapkan keridhaan Allah, niscaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas:

“Yakni tidak ada kebaikan dalam kebanyakan pembicaraan di antara manusia dan tentunya jika tidak ada kebaikan maka bisa jadi yang ada adalah ucapan tak berfaedah seperti berlebih-lebihan dalam pembicaraan yang mubah atau bisa jadi kejelekan dan kemudlaratan semata-mata seperti ucapan yang diharamkan dengan seluruh jenisnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecualikan: “Kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah,” dari harta ataupun ilmu (dengan mengajarkannya–pen) atau sesuatu yang bermanfaat, bahkan bisa jadi masuk pula di sini ibadah-ibadah seperti bertasbih, bertahmid, dan semisalnya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah dan setiap tahlil adalah sedekah. Demikian pula amar ma‘ruf merupakan sedekah, nahi mungkar adalah sedekah dan dalam kemaluan salah seorang dari kalian ada sedekah (dengan menggauli istri)….” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 202)

5. Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

6. Mencurahkan perhatian dengan apa yang sedang dihadapi disertai permintaan tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa banyak berangan-angan (terhadap perkara dunia) untuk masa yang akan datang karena akan berbuah kegelisahan disebabkan takut/ khawatir menghadapi masa depan (di dunia) dan juga tanpa terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan dan diraih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجزْ، وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَل الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpamu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini niscaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaithan.” (HR. Muslim)

7. Senantiasa mengingat dan menyebut nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik nikmat lahir maupun batin. Dengan melakukan hal ini seorang hamba terdorong untuk selalu bersyukur kepada-Nya sampaipun saat ia ditimpa sakit atau berbagai musibah lainnya. Karena bila ia membandingkan kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan padanya dengan musibah yang menimpanya sungguh musibah itu terlalu kecil. Bahkan musibah itu sendiri bila dihadapi dengan sabar dan ridha merupakan kenikmatan karena dengannya dosa-dosa akan diampuni dan pahala yang besar pun menanti.

8. Selalu melihat orang yang di bawah dari sisi kehidupan dunia misalnya dalam masalah rezki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

9. Ketika melakukan sesuatu untuk manusia, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan dari mereka namun berharaplah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga engkau tidak peduli mereka mau berterima kasih atau tidak dengan apa yang telah engkau lakukan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan hamba-hamba-Nya yang khusus:

إِنَّماَ نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَ نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزآءً وَلاَ شُكُوْراً

“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 9)

Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup. Sebagai akhir teruntai doa kepada Rabbul ‘Izzah :

اللّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِيْ وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلَِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang agama ini merupakan penjagaan perkaraku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang aku hidup di dalamnya, dan perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam seluruh kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari seluruh kejelekan.” (HR. Muslim) Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Sumber : http://www.asysyariah.com
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ(“Assalamu ‘alaikum”)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Alloh memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak..” (QS. An-Nisa : 1)

Sebagian besar mufassirin (ahli tafsir) menjelaskan yang dimaksud “dari padanya” itu adalah bagian tubuh (tulang rusuk) Adam sebagaimana hadist yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang akan penulis sampaikan nanti. Dari ayat tersebut, Iman kita diajarkan untuk mengetahui bahwa, wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki.

Selanjutnya, ternyata bukan hanya secara biologis seorang wanita membawa unsur tulang rusuk laki-laki. Melainkan kejiwaannya juga mensifati tulang rusuk. Bengkok dan rapuh. Sebagaimana sabda Rosulullah : Berwasiatlah kalian mengenai kaum wanita. Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kau meluruskannya, maka kau mematahkannya. Jika kau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian mengenai wanita (HR Bukhari)

Begitulah, dalam fitrahnya wanita membawa sisi-sisi perbedaan dengan kaum laki-laki. Terkadang, perbedaan itu terwujud berupa kelemahan atau kebengkokan.

Suatu ketika Rasulullah harus sedikit menegur Aisyah ketika sang Humaira cemburu berat.

Aisyah berkata “Rasulullah jika mengingat Khadijah, tak bosan-bosannya memuji dan beristighfar untuknya. Hingga pada suatu hari beliau menyebut-nyebutnya yang membuatku terbawa oleh rasa cemburu. Aku berkata, ‘Alloh telah menggantikan yang lanjut usia itu bagimu.’ Aku saksikan beliau sangat marah seraya berkata, “Apa yang kau katakan? Demi Allah, ia beriman ketika orang-orang mendustakan aku. Ia melindungi ketika orang-orang menolakku. Darinya aku dikaruniai anak-anak dan tidak aku dapatkan dari kalian.” Aku sangat menyesal sambil berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau hilangkan kemarahan Rasul-Mu terhadapku, aku tak akan lagi menyebutkan kejelekannya,”

Perilaku itu bukanlah aib bagi Aisyah. Sikap itu bukanlah lahir dari tempaan hidup yang salah. Atau bukan karena pergaulan dan didikan orangtua yang keliru. Itulah kejiwaannya sebagai wanita, yang pastinya itu juga ada pada semua wanita. Kebengkokan itu sesekali muncul ke permukaan. Aisyah adalah seorang wanita ahli Syurga, tapi di dunia, ia tetap hidup sebagaimana fitrah wanita pada umumnya.

Sifat bengkok itu sudah ada sejak Allah meniupkan ruh ke dalam rahim ibu seorang wanita. Maka dari itu, kebengkokan seorang wanita bukanlah untuk dibenci. Kebengkokan mereka bukanlah aib. Apalagi tanpa ampun dijadikan pembenar untuk menyakiti. Karena kebengkokan itu bukanlah berkaitan dengan rendahnya derajat dirinya di hadapan Allah. Di hadapan Allah kemuliaan seorang wanita dan laki-laki tetap secara adil dilihat dari amal sholihnya. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal sholih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An-Nisa : 124)

Kebengkokan itu, menurut Dr. Akram Ridha, juga bersifat emosional dan bukan karakter yang melekat terus menerus. Seorang wanita kadang dikuasai oleh emosinya hingga tak mampu bersikap bijaksana saat mengambil keputusan, atau kadang ia berbuat atau berkata tidak pantas pada suaminya. Maka sebaiknya suami harus bersabar dan melihat kebengkokan istri tersebut sebagai kondisi diluar kendali dirinya. Ia tak bermaksud menyempitkan dan menyakiti suaminya.

Bila Rasul mengabarkannya untuk kita tentang kelemahan perempuan, bukan maksud merendahkan kedudukan mereka. Melainkan untuk diketahui, dimaklumi dan selanjutnya dipergauli dengan ma’ruf dan penuh kasih sayang.
background